Coba saya artikan sepengetahuan saya ,KEPUHUNAN (dialek Banjar dibaca kepohonan) kepercayaan masyarakat lokal yang hanya di temui dikehidupan masyarakat kalimantan sehari hari (saya belum menemukan hal atau kepercayaan ini di luar pulau kalimantan) yaitu bahwa ketika seseorang ditawarkan makanan, sebaiknya pihak yang ditawarkan haruslah “nyantap” atau mencicipi secuil sedikit makanan yang ditawarkan tersebut. Jika tidak dilakukan orang, maka diyakini akan terjadi sesuatu yang buruk akan menimpa orang yang tidak nyantap tersebut. Sesuatu yang buruk yang dimaksud mungkin berupa kecelakaan, musibah, atau dihubungkan dengan gangguan atau “penampakan” makhluk halus.
Terutamanya makanan atau minuman yang sangat bertuah dan “wajib” disantap berupa ketan, nasi kuning, dan kopi. Tetapi menurut keyakinan lokal, tetap… hampir semua makanan bisa mengakibatkan “kepuhunan”. Pada prakteknya, penduduk lokal otomatis akan menawarkan makanan yang akan dia makan, dan yang ditawari “harus” nyantap (mencicipi) sedikit makanan yang ditawarkan tersebut. Jika makanan yang ada tersedia cukup banyak, jika kita suka, kita bisa mengambil sepotong dua atau yahhh… seperti bertamu biasanya…. Jika kita tidak ingin makan karena sesuatu hal, maka kita bisa “nyantap” saja. Misalnya si A sedang makan pisang goreng, didekatnya ada si B, maka sebelum menggigit si A akan menawarkan si B untuk “nyantap”. Maka si B akan mencuil sedikit (benar-benar secuil bahkan tidak akan terasa dilidah, karena hanya untuk menghindari kepuhunan tersebut) pisang goreng tersebut.
Masyarakat modern menilai hal ini sebagai tidak ilmiah, irrasional, atau tahyul. Meskipun kadang hal ini benar terjadi. Berkaitan dengan “kepuhunan” ini, suatu saat mertua saya bercerita tentang kecelakaan yang mengakibatkan vespa nya hancur, hingga mesinnya terbelah. Menurut dia, itu terjadi selepas pulang bertamu, disuguhi kopi, dan dia tidak “nyantap”. Maka terjadilah “kepuhunan” itu. Bahkan dia dengan penuh semangat menceritakan beberapa kejadian lain yang sejenis, yang berhubungan sengan “kepuhunan”
Sadar atau tidak sadar, kadang mitos dan kepercayaan masyarakat lokal, sarat akan kearifan lokal. Mengandung unsur-unsur keharmonisan antar sesama manusia dan manusia dengan alam lingkungannya. Saya mengulas hal ini semata-mata hanya ingin “memotret” budaya kepercayaan masyarakat lokal di Kalimantan. Saya rasa tidak perlu dipertentangkan dengan nilai-nilai lain, biarlah budaya lokal ini menjadi kekayaan budaya nusantara.
Salam lestari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar