Senin, 19 Desember 2016

Veldples atau apalah sebutan nya..  Sebuah item yg pada awalnya merupakan salah satu kelengkapan personal bagi seorang anggota militer di medan perang atau pada saat latihan.
Sebuah item yg berfungsi sebagai tempat persediaan air minum perorangan yg juga pada beberapa type dilengkapi dengan alat untuk memasak.
Dulu item ini dikalangan pera pendaki pendaki lawas adalah se



suatu yg wajib dibawa ketika melakukan suatu perjalanan mendaki gunung. Tetapi saat ini sdh hampir jarang terlihat. Veldples sdh tergantikan dengan air minum kemasan yg mungkin dianggap lebih praktis tetapi sebenarnya memberikan dampak terhadap lingkungan.
Para pendaki dimanjakan oleh kepraktisan sehingga terkadang mereka lupa atau dengan sengaja untuk tidak membawa turun botol botol bekas kemasan air tsb.
Melihat dari dampak terhadap lingkungan maka wajar saja ketika salah satu kawasan Taman Nasional menerapkan larangan membawa air minum dalam botol kemasan. Dan saya sangat mendukung aturan tersebut...
Adalah salah tempat ketika kita mrnganggap gunung sebagai tempat bermanja manja sehingga kita dengan gampangnya mengotori lingkungan dengan sampah yg kita bawa..
Solusi saya terhadap aturan aturan larangan membawa air minum dalam kemasan adalah kembali menggunakan dan membawa veldples sebagai wadah cadangan air minum dalam perjalanan pendakian kita..

#Salamlesatari
#salamrimbanusantara
#backtobasic
#backtobarrack

Senin, 12 Desember 2016

MELINDUNGI HUTAN INDONESIA



Di seluruh dunia, hutan-hutan alami sedang dalam krisis. Tumbuhan dan binatang yang hidup didalamnya terancam punah. Dan banyak manusia dan kebudayaan yang menggantungkan hidupnya dari hutan juga sedang terancam. Tapi tidak semuanya merupakan kabar buruk. Masih ada harapan untuk menyelamatkan hutan-hutan ini dan menyelamatkan mereka yang hidup dari hutan.Hutan purba dunia sangat beragam. Hutan-hutan ini meliputi hutan boreal-jenis hutan pinus yang ada di Amerika Utara, hutan hujan tropis, hutan sub tropis dan hutan magrove. Bersama, mereka menjaga sistem lingkungan yang penting bagi kehidupan di bumi. Mereka mempengaruhi cuaca dengan mengontrol curah hujan dan penguapan air dari tanah. Mereka membantu menstabilkan iklim dunia dengan menyimpan karbon dalam jumlah besar yang jika tidak tersimpan akan berkontribusi pada perubahan iklim.

Hutan-hutan purba ini adalah rumah bagi jutaan orang rimba yang untuk bertahan hidup bergantung dari hutan-baik secara fisik maupun spiritual.

Hutan-hutan ini juga merupakan rumah bagi duapertiga dari spesies tanaman dan binatang di dunia. Yang berarti ratusan ribu tanaman dan pohon yang berbeda jenis dan jutaan serangga-masa depan mereka juga tergantung pada hutan-hutan purba.

Hutan-hutan purba yang menakjubkan ini berada dalam ancaman. Di Brazil saja, lebih dari 87 kebudayaan manusia telah hilang; pada 10 hingga 20 tahun kedepan dunia nampaknya akan kehilangan ribuan spesies tanaman dan binatang. Tapi ada kesempatan terakhir untuk menyelamatkan hutan-hutan ini dan orang-orang serta spesies yang tergantung padanya.

7 TIP MENGHEMAT BATERAI HP SAAT TRAVELLING



Salah satu kegiatan yang umum dilakukan para pekerja di akhir pekan, khsusunya di akhir bulan adalah berlibur ke luar kota.

Dengan jarak tempuh yang jauh, semakin seringnya ponsel digunakan hingga sinyal yang tidak stabil, salah satu “korban” terbesarnya adalah baterai smartphone yang lekas habis.

Berikut berbagai tips untuk menghemat baterai smartphone saat berlibur ke luar kota.




1. Matikan Feature Sinyal 4G

Sinyal 4G memberikan koneksi yang lebih cepat tetapi konsumsi baterai yang lebih banyak. Apalagi bila Anda berlibur ke daerah pelosok, ponsel Anda akan berusaha mencari sinyal 4G yang mengakibatkan baterai terkuras. Maka pakailah sinyal dengan setting 3G, EDGE atau bahkan GPRS saja.


2. Jangan Lupa Bawa Power Bank

Siapkan charger portabel (Power Bank) untuk mengisi baterai di saat tidak ada sumber daya.


3. Turunkan Kecerahan Layar

Kecerahan layar yang tinggi sangat menguras baterai. Jadi lebih baik turunkan tingkat kecerahan lampu layar, walau akan sedikit sulit melihat layar namun baterai akan jauh lebih hemat.






4. Hindari Main Game

Bermain game artinya smartphone Anda bekerja dengan berat. Untuk mengusir bosan lebih baik Anda mendengarkan musik (pakai headset), karena memutar musik pada smartphone lebih enteng dan tidak menguras baterai gadget Anda.


5. Aktifkan Sleep Mode

Di beberapa seri smartphone, disediakan fitur Sleep Mode untuk akses internet. Jika fitur ini diaktifkan, maka bisa menonaktifkan akses internet secara otomatis ketika sudah tidak lagi digunakan dalam jangka waktu beberapa lama.


6. Aktifkan Fitur Penghemat Baterai

Beberapa smartphone dilengkapi dengan fitur penghemat baterai biasanya disebut dengan fitur Power Saver. Jika fitur ini diaktifkan, maka smartphone bisa secara otomatis akan mematikan beberapa fitur (GPS, WiFi, NFC, mobile data, dan lainnya) ketika kondisi baterai sudah mulai minim. Tujuannya agar dengan sisa kapasitas yang ada, baterai bisa bertahan lebih lama.


7.Matikan Gadget Ketika Tidak Dibutuhkan.

Bila perjalanan Anda panjang dan kira-kira Anda akan tertidur, lebih baik matikan gadget Anda.

Senin, 05 Desember 2016

ASAL MUASAL SUKU DAYAK

ASAL MUASAL SUKU DAYAK

Berdasarkan hasil penelitian antroplogi, suku Dayak yang mendiami pulau Kalimantan (Borneo) bukanlah penduduk asli. Penduduk asli pulau Borneo yang pertama dengan ciri-ciri fisik rambut hitam keriting, kulit hitam, hidung pesek dan tinggi badan rata-rata 120-130 cm. Mereka digolongkan ke dalam suku bangsa negrito sebagaimana yang masih terdapat sisa-sisanya dalam kelompok kecil di malaysia bagian utara.

Di pulau Kalimantan kelompok suku bangsa negrito ini diduga telah musnah setelah datangnya suku bangsa baru yang ber-migrasi dari benua asia sebelah timur yaitu dari Cina. Menurut ahli etnologi, di asia pada awal-awal abad masehi pernah dua kai terjadi perpindahan bangsa-bangsa yang terjadi pada abad ke II dan yang ke dua terjadi pada abad ke IV. Suku bangsa yang datang dan akhirnya mendiami pulau Kalimantan (Borneo) sebagian besar datang pada perpindahan bangsa-bangsa yang kedua yaitu pada abad ke-IV.

Terjadinya perpindahan bangsa-bangsa ini dilakukan untuk menghindari kekejaman suku bangsa Tar-tar dari Utara yang terjadi sejak zamannya Jengis Khan. Kelompok bangsa yang berpindah itulah yang menjadi cikal bakal terbentuknya bangsa baru seperti Jepang, Taiwan, Philipina dan suku bangsa di Indonesia antara lain suku bangsa di Manado-Gorontalo-Toraja di Sulawesi ; suku-suku di Riau kepulauan, Suku Batak-Nias di Sumatera; serta suku Dayak di Kalimantan.

Sebagaimna dikemukakan sebelumnya nenek moyang suku Dayak berasal dari wilayah pegunungan Yunan bagian selatan berbatasan dengan Vietnam sekarang. Kelompok migran yang masuk ke wilayah Kalimantan Tengah sekarang dan menjadi nenek moyang bagi sebagian besar orang/suku Dayak di Kalimantan Tengah merupakan bagian dari perpindahan bangsa-bangsa ke II pada abad ke IV. Diduga mereka masuk ke Kalimantan Tengah melalui sedikitnya 3 (tiga) koridor yaitu :
1. Koridor I dari Kalimantan Barat menyusuri sungai Kapuas sehingga akhirnya menyeberang/melintas pegunungan Schwaner.
2. Koridor II dari Kalimantan Timur melalui Kabupaten Kutai Barat sekarang
3. Koridor III dari Kalimantan Timur melalui Kabupaten Paser sekarang

Berdasarkan legenda dan cerita para pendahulu, nenek moyang suku Dayak yang mendiami Kalimantan Tengah sama sekali tidak ada kelompok yang masuk dari muara-muara sungai di sebelah selatan wilayah Kalimantan Tengah yaitu dari arah laut Jawa. Seluruhnya masuk ke wilayah Kalimantan Tengah sekarang melalui bagian utara dan timur.

Dalam puisi TETEK TATUM di sebutkan bahwa nenek moyang orang Dayak berasal dari Kerajaan Langit, diturunkan dengan ”Palangka Bulau” di (1) Tantan Puruk Pamantuan (2) Tantan Liang Mangan Puruk Kaminting dan (3) Puruk Kambang Tanah Siang. Perlu diketahui juga bahwa yang dimaksud ”Kerajaan Langit” dimaksudkan menunjuk kepada kerajaan-kerajaan di Cina pada waktu itu.

Menurut legenda, nenek moyang orang Dayak Ngaju berasal dari suatu kerajaan yang terletak dilembah pegunungan Yunan Selatan di Cina Barat Laut. Raja tersebut bergelar THA WONG yang berarti raja besar. Hal ini disebut-sebut dalam puisi TETEK TATUM dengan sedikit perubahan dari THA WONG menjadi TAHAWONG. Oleh karena itu tidak mengherankan jika dikalangan suku Dayak ada beberapa keluarga dalam memberikan nama bagi anak laki-laki yang lahir dikeluarganya dengan antara lain ; Tahawong, Sahawong, Sawong, Tewong atau Siwong.

Salah satu kelompok migran dari THA WONG tersebur masuk ke Kalimantan Tengah sekarang di duga melalui Kalimantan Barat, dengan menyusuri sungai Kapuas. Dalam mencari tempat pemukiman baru yang aman akhirnya kelompok tersebut menyebarangi sebuah pegunungan (Schwaner). Pemukiman pertama di duga di bangun di hulu anak sungai Katingan antara lain sungai Samba dan sungai Baraoi. Daerah tersebut biasa di kenal dengan sebutan DAHTAH HOTAP. Hingga saat ini di tempat itu masih terdapat puing-puing betang yang sangat besar. Betang tersebut pada masanya dipastikan sangat kokoh. Tiang-tiang betang dibuat dari kayu ulin yang berdiameter anatar 60-70 cm. Dari betang inilah diduga penyebaran kelompok–kelompok kecil kesebagian besar wilayah Kalimantan Tengah.

Salah satu kelompok kecil yang di pimpin ”Ongko Kalangkang” pindah ke arah timur dan akhirnya menetap di hulu sungai Kahayan, yaitu di desa Tumbang Mahuroi sekarang. Warga suku Dayak Ngaju mengakui bahwa ”Ongko Kalangkang” adalah nenek moyang mereka dan merupakan cikal bakal adanya suku Dayak Ngaju. Dalam bahasa Ngaju, kata ongko berarti orang tua, persis sama seperti bahasa Cina. Kata Kalangkang merupakan pertautan 3 (tiga) kata yaitu; Ka (atau kho)-La dan Kang.

Migrasi Ongko Kalangkang ke hulu sungai Kahayan (Tumbang Mahuroi) disertai 7 (tujuh) keluarga dan anak menantunya. Atas kesepakatn bersama, maka ke tujuh keluarga anak-menantunya tersebut menyebar mencari tempat pemukiman baru dengan cara menyisir sungai Kahayan ke arah hilir (selatan). Dengan menggunakan rakit-rakit yang dibuat dari bambu dan kayu, rombongan ke-7 keluarga tersebut melakukan perjalanan untuk mencari tempat-tempat pemukiman baru yang cocok.

Dengan demikian di sepanjang sungai Kahayan akhirnya terbangun 8 (delapan) perkampungan asal yang merupakan kampung generasi pertama, yaitu :
1. Tumbang Mahuroi (Ongko kalangkang)
2. Tumbang Pajangei (anak laki-laki)
3. Tampang (anak laki-laki)
4. Sepang Simin (anak laki-laki)
5. Bawan (anak perempuan)
6. Pahawan (Anak perempuan)
7. Bukit Rawi (Anak perempuan)
8. Pangkoh (anak Perempuan)

Dalam buku ”MANESER PANATAU TATU HIANG” atau Menyelami Kekayaan Leluhur yang di susun oleh Dra. Nila Riwut, 2003 halaman 59 tentang ”Asal-usul Suku Bangsa Dayak” dikemukakan adanya pendapat orang lain yang menyebutkan bahwa suku Dayak berasal dari proto-melayu/melayu tua (Maneser Panatau Tatu Hiang, tahun 2003, halaman 59)

Pendapat tersebut diatas sangat spekulatif dan kurang beralasan. Pegunungan Yunan letaknya di wilayah Cina barat laut. Ras Melayu jelas tidak berasal dari Benua Asia Timur tersebut. Nenek moyang orang Dayak Kalimantan Tengah jelas menyebar dari arah utara yaitu dari daerah hulu sungai. Penyebaran terbalik bukan dari muara sungai sebelah selatan Kalimantan Tengah melainkan menyebar dari arah utara dan dari arah timur, artinya justru menyebar dari arah hulu sungai.

Dengan demikian asal-usul orang Dayak dapat disimpulkan bukan dari ras melayu melainkan lebih tepat dari ras Neo-mongolik. Berpindahnya nenek moyang suku Dayak dari daerah asal (pegunungan Yunan) dapat dipastikan telah mempunyai kebudayaan yang tinggi. Hal tersebut dibuktikan bahwa mereka telah memiliki kemampuan navigasi yang memungkinkan mereka berlayar menyeberangi laut Cina Selatan. Ditempat yang baru mereka telah mampu mengenal batu-batuan yang mengandung bijih besi, memproses besi besi menggunakan tanur yang dibuat sendiri. Hasil besi yang diproses itu disebut dengan ”Sanaman Mantikei” atau besi Mantikei yang terkenal sangat kuat.

Pada zaman sebelum kemerdekaan sampai beberapa tahun awal kemerdekaan, di sekolah-sekolah khusus mata pelajaran ilmu bumi menggunakan buku atlas yang diadakan pemerintah. Khusus pada peta pulau Kalimantan untuk menunjukan nama-sama sungai tertulis antara lain : Dayak Kapuas (besar), Dayak Ketapang, Dayak Lamandau, Dayak Arut, Dayak Kapuas , dll

Dengan demikian yang dimaksud dengan Dayak adalah sungai. Kata Dayak yang artinya sungai tersebut terdapat pada satu anak suku Benuaq di Kalimantan Timur serta bahasa lokal di Kalimantan Barat dan Serawak.

Pada awal abad ke-XIX seorang ilmuwan barat sekaligus missionaris telah melakukan perjalanan panjang selama bertahun-tahun untuk suatu penelitian tentang suku bangsa dan budaya penduduk yang mendiami pulau Kalimantan. Pada saat itu sungai merupakan satu-satunya prasarana perhubungan dari satu kampung ke kampung lain.

Di setiap aliran sungai ilmuwan tersebut menyusuri sungai dengan menggunakan perahu yang didayung oleh tenaga upahan dari penduduk setempat. Apabila sampai pada suatu kampung, ia bertanya kepada pengantarnya (guide) tentang nama kampung dan suku bangsa yang mendiami tempat itu. Namun sampai berakhirnya seluruh perjalanan penelitian tersebut, ternyata bahwa semua suku bangsa yang ia temui belum mempunyai nama. Oleh karena itulah didalam tulisan akhirnya ilmuwan tersebut menyimpulkan bahwa suku bangsa yang mendiami pulau Kalimantan diberikannya nama suku Dayak yang artinya suku bangsa yang bermukim di sepanjang tepi sungai.

Perkembangan penduduk dan perkembangaan kampung-kampung baru menjadi sangat pesat. Dari Kahayan inilah penyebaran penduduk terjadi ke arah barat (Sungai Rungan, Katingan, Mentaya, Seruyan, Arut dan Lamandau); ke arah timur dan selatan (sungai Kapuas, Kapuas Kuala, Barito Kuala, Barito Tengah dan sebagian Barito Hulu).

Memurut Tjilik Riwut dalam bukunya ; Kalimantan Memanggil (1958), suku Dayak Ngaju merupakan suku induk dan terbagi atas 4 (empat) suku besar yaitu :
1. Suku Ngaju dengan 53 anak suku
2. Suku Maanyan dengan 8 anak suku
3. Suku Lawangan dengan 21 anak suku
4. Suku Dusun dengan 24 anak suku

Hampir seluruh wilayah propinsi Kalimantan Tengah sekarang dihuni oleh warga masyarakat yang tergabung ke dalam suku Dayak Ngaju (dan anak suku). Kecuali sedikit warga seperti sebagian hulu anak-anak sungai Katingan, hulu sungai Kapuas dan hulu sungai Barito di huni oleh suku Ot Danum, Ot Siang, Ot Punan dan Ot Kareho. Nenek moyang suku-suku Ot ini kemungkinan besar memasuki Kalimantan Tengah memalui koridor I dan koridor II dari arah Kalimantan Timur.

Bahasa yang digunakan sebagai bahasa komunikasi antar warga dari berbagai suku, disamping menggunakan bahasa ibu adalah bahasa Ngaju. Bahasa Dayak Ngaju juga berfungsi untuk menjadi bahasa pengantar atau lingua franca pada sebagian besar suku-suku di Kalimantan Tengah.

Hubungan Suku Bukit ”Meratus” dengan Ngaju

Penyebutan Dayak merupakan suatu label yang dipergunakan untuk menyebut ratusan suku bangsa asli yang mendiami Borneo. Memang terdapat beberapa perbedaan pendapat tentang pengertian dari istilah “dayak”. Lindbald menyatakan, bahwa kata Dayak berasal dari kata “daya” (bahasa Kenyah) yang mempunyai pengertian “hulu sungai” atau “pedalaman”. Sementera itu, menurut Riwut, istilah “dayak” dapat dirunut dari bahasa orang Dayak Sahawung, “dayak” atau “daya” berarti “kekuatan”. Namun, pengertian ini menurut Riwut, juga sering disalahartikan oleh orang-orang Melayu atau orang pendatang di Kalimantan, bahwa “dayak” berarti “orang gunung”. Mengapa mereka menyebut sebagai Orang Gunung, karena orang-orang Melayu sering mengucapkan kata “dayak” untuk menyebut suku-suku asli di Kalimantan yang tinggal di gunung (bukit) atau di pedalaman. Demikian juga yang terjadi di daerah Hulu Sungai Selatan (Kandangan), orang-orang Banjar seringkali menyebut “orang dayak” untuk menunjuk pada penduduk asli yang tinggal di perbukitan sepanjang pegunungan Meratus.

Menurut Tjilik Riwut, Suku Dayak Bukit merupakan suku kekeluargaan yang termasuk golongan suku (kecil) Dayak Ngaju. Suku Dayak Ngaju merupakan salah satu dari 4 suku kecil bagian dari suku besar (rumpun) yang juga dinamakan Dayak Ngaju.

Mungkin adapula yang menamakan rumpun suku ini dengan nama rumpun Dayak Ot Danum. Penamaan ini juga dapat dipakai, sebab menurut Tjilik Riwut, suku Dayak Ngaju merupakan keturunan dari Dayak Ot Danum yang tinggal atau berasal dari hulu sungai-sungai yang terdapat di kawasan ini, tetapi sudah mengalami perubahan bahasa. Jadi suku Ot Danum merupakan induk suku, tetapi suku Dayak Ngaju merupakan suku yang dominan di kawasan ini.

Silsilah suku Bukit;
Suku Dayak (suku asal), terbagi 5 suku besar / rumpun:
* Dayak Laut (Iban)
* Dayak Darat
* Dayak Apo Kayan / Kenyah-Bahau
* Dayak Murut
* Dayak Ngaju / Ot Danum, terbagi 4 suku kecil:
o Dayak Maanyan
o Dayak Lawangan
o Dayak Dusun
o Dayak Ngaju, terbagi beberapa suku kekeluargaan :
+ Dayak Bukit
• dan lain-lain

Menurut Alfani Daud, suku Dayak Bukit sebagaimana suku Banjar, nenek moyangnya juga berasal dari Sumatera dan sekitarnya ( daerah Melayu). Karena itu ada pulanya yang menamakan sebagai "Melayu Bukit" (Bukit Malay).

Suku ini dapat digolongkan sebagai suku Dayak, karena mereka teguh memegang kepercayaan atau religi suku mereka. Akan tetapi religi suku ini, agak berbeda dengan suku Dayak di Kalimantan Tengah (Suku Dayak Ngaju), yang banyak menekankan ritual upacara kematian. Suku Dayak Bukit lebih menekankan upacara dalam kehidupan, seperti upacara pada proses penanaman padi atau panen. Suku Dayak Bukit juga tidak mengenal tradisi Ngayau yang ada jaman dahulu pada kebanyakan suku Dayak.

Upacara ritual suku Dayak Bukit, misalnya "Aruh Bawanang". Tarian ritual misalnya tari Babangsai untuk wanita dan tari Kanjar untuk pria. Suku Bukit tinggal dalam dalam rumah besar yang dinamakan balai.

Balai merupakan rumah adat untuk melaksanakan ritual pada religi suku mereka. Bentuk balai, "memusat" karena di tengah-tengah merupakan tempat altar atau panggung tempat meletakkan sesajen. Tiap balai dihuni oleh beberapa kepala keluarga, dengan posisi hunian mengelilingi altar upacara. Tiap keluarga memiliki dapur sendiri yang dinamakan umbun. Jadi bentuk balai ini, berbeda dengan rumah adat suku Dayak umumnya yang berbentuk panjang (Rumah Panjang).

Bahasa Dayak Bukit, menurut penelitian banyak kemiripan dengan dialek Bahasa Banjar Hulu. Ada pula yang menamakan bahasa Bukit sebagai "bahasa Banjar archais". Bahasa Bukit termasuk Bahasa Melayu Lokal yang disebut Bahasa Melayu Bukit.Berbeda dengan Riwut, penelitian Noerid Haloei Radam membuktikan bahwa orang Dayak Bukit tidaklah serumpun dengan orang Dayak Ngaju, namun mereka lebih dekat dengan atau serumpun dengan orang Banjar

. Kedekatan ini dibuktikan dengan adanya kesamaan bahasa dan adanya kesamaan nenek moyang dan sistem religi yang dipercayainya.

Berdasarkan pengamatan yang pernah dilakukan oleh Moh. Soehadha pada tahun 2003 dan tahun 2004, ia berpendapatan bahwa orang Dayak Meratus (Bukit) memiliki rumpun yang sama dengan orang Banjar Hulu. Pendapat tentang kesamaan rumpun suku antara Dayak Meratus dengan orang Banjar Hulu dapat dibuktikan dari cerita-cerita yang dituturkan oleh para tokoh adat Dayak Meratus yang berisi tentang kesadaran dan pengakuan bahwa nenek moyang orang Dayak Meratus umumnya adalah orang Banjar Hulu yang mendiami wilayah Kayu Tangi (Martapura).

Tentang Budaya Rumah Betang

Sejak lebih dari 1500 tahun yang lalu kehidupan nenek moyang masyarakat Dayak yang datang ke pulau Kalimantan merupakan masyarakat yang telah memiliki budaya yang tinggi. Namum dalam perkembangannya ditanah yang baru (Kalimantan tengah) kebudayaan mereka tidak berkembang bahkan cenderung mengalami kemunduran.

Dalam kurun waktu sebelum Perdamaian Tumbang Anoi pada tahun 1894 masyarakat Dayak bermukim terpisah-pisah di perkampungan yang tersebar di sepanjang tepi sungai. Sesuai dengn kebutuhannya untuk tempat tinggal dibangun rumah panjang yang disebut ”Betang”dan menampung seluruh keluarga yang menjadi warga ”Betang”tersebut. Apabila perkampungan dirasakan sebuah Betang sudah tidak mencukupi,maka atas mufakat bersama dibangun betang baru. Betang sebagai tempat hunian bersama di wilayah pedalaman Kalimantan Tengah dan masih bertahan sampai menjelang abad ke-XIX.

Betang juga bisa diterjemahkan dengan Rumah besar dan Panjang. Dan dalam bahasa ngaju adalah huma hai yang artinya rumah besar. Ukuran betang bervariasi sesuai dengan jumlah kepala keluarga yang mendiaminya. Dalam sejarah perkembangan masyarakat Dayak ada betang yang sangat besar dan panjang yang dihuni oleh warga kurang lebih 100 kepala keluarga. Ada juga betang ukurannya relatif kecil dan dapat menampung 10-20 kepala keluarga.

Pada zaman dulu,pada suatu lokasi perkampungan dibangun hanya 1 (satu) buah rumah betang sebagai tempat hunian seluruh warga. Namun dalam perkembangannya mulai pertengahan abad ke XIX mulai muncul perkampungan yang terdiri dari 2-3 betang dengan ukuran kecil. Kontruksi rumah betang dibangun dengan menggunakan tiang-tiang penopang yang sangat kokoh dari kayu ulin. Bahkan pada puing-puing betang yang ada di Datah otap di bagian hulu sungai samba-baraoi tiang-tiang ulin tersebut berukuran 60-70 cm. Bangunan betang bisa mencapai ketinggian 5-6 meter dari permukaan tanah dengan tangga lokal (hejan)2-3 tingkat. Tingginay bangunan tersebut dimaksudkan untuk mengantisipasi serangan binatang buas dan musuh sehingga senjata tombak musuh tidak akan mencapai lantai betang.

Oleh karena itu betang dalam istilah Dayak ngaju di sebut ”Betang panjang palataran lumbah,Huma hai bendera gantung”. Secara keseluruhan rumah betang meliputi ; betang panjang,Balai basara,Balai Garantung,Lepau (Lumbung padi),Sandung,Patahu,Batang talian (termasuk fasilitas MCK dan tambatan perahu). Di dalam betang ini juga dibangun ruangan khusus untuk seorang gadis dan keluarga terpandang yanmg dipingit samapi gadis tersbut menikah. Selam dalam pingitan tersebut,sang gadis di beri pelajaran kepandaian seorang putri seperti merajut,menenun,menganyam serta pelajaran tentang kepribadian,etika adat istiadat dan lain-lain.

Dalam betang sebagai hunian baik untuk seluruh atau sebagian warga perkampungan ikut bertumbuh kembang kebudayaan,adat kebiasaan dan hukum adat masyarakat dayak. Warga betang dipimpin oleh kepala betang dibantu oleh perangkat organisasi dilingkungan betang tersebut sebagai suatu perkampungan. Berbagai hal menyangkut kepentingan bersama dibahas melaui musyawarah untuk mufakat.

Seiring dengan perkembangan zaman lebih-lebih dampak dari masuknya kebudayaan dari luar,maka betang sebagai tempat hunian bersama menjadi kurang menarik dan makin lama makin ditinggalkan. Arus kehidupan modern yang lebih bersifat individualistis serta pengaruh berkembangnya pendidikan,ilmu pengetahuan dan teknolog,secara perlahan dan pasti betang sebagai bentuk tempat hunian bersama tidak dipertahankan lagi. Betang-betang yang masih ada sampi saat inimerupakan sisa-sisa betang yang dibangun pada abad ke-XIX atau sebelumnya. Sampai saat ini saat ini di Kalimantan Tengah hanya terdapat belasan rumah betang yang tersebar di berbagai kabupaten.(lampiran gambar.....)

Meskipun demikian dewasa ini kembali disadari bahwa kearifan dan kebijakan yang diterapkan oleh kepala betang masa lampau beserta organisasi perangkatnya ternyata memiliki nilai budaya yang luhur dan tinggi. Banyak tokoh masyarakat dan budayawan daerah berpandangan adalah menjadi kewajiban bersama untuk mengangkat dan menghidupkan kembali nilai-nilai luhur dalam masyarakat betang menjadi falsafah hidup yaitu falsafah budaya betang.

(adat istiadat Dayak Ngaju- Pemerintah Kota Palangkaraya-Pusat Budaya Betang 2003)
rasheed muzzafar di 15.06

Sabtu, 03 Desember 2016

FESTIVAL BAMBO RAFTING : SEBUAH FESTIVAL RUTIN TAHUNAN DI KABUPATEN LAMANDAU

Festival Bamboo rafting adalah Salah satu even yg menjadi agenda rutin tahunan yg bisa kita jumpai dan saksikan Kecamatan Delang, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah (Kalteng)
Menyusuri aliran sungai Delang yg berair bening dan memiliki banyak riam serta panorama yg indah di sepanjang aliran sungai akan meninggalkan kenangan tersendiri bagi siapa saja yg mengikutinya
Para peserta  diharuskan menggunakan sabuk dan takuluk atau busana tradisional khas Dayak.
Selain dengan rakit bambu para wisatawan juga dapat meraskan petualangan dengan menggunakan ban (tubing) dan dipandu oleh masyarakat sekitar.
Jadi kapan kalian mau main ke sini.?
#amazingborneo

JEMBATAN TAYAN KAPUAS : SEBUAH ICON WISATA BARU DI KALIMANTAN BARAT

JEMBATAN TAYAN KAPUAS
Berjarak lebih kurang 100 Km dari kota Pontianak, membentang sepanjang 1.440 m diatas sungai Kapuas yg menjadi penghubung antara Tayan dan Piasak dan menjadi bagian dalam sistem transportasi jalan raya trans kalimantan di koridor barat.
Jembatan Tayan Kapuas ini menjadi ikon kebanggan masyarakat Kalimantan Barat.
Jembatan ini menjadi jembatan terpanjang kedua di Indonesia setelah jembatan Suramadu di Jawa Timur.
Jembatan ini juga menjadi salah satu spot persinggahan bagi para pelintas untuk berfoto dengan latar belakang jembatan dan panorama disekitarnya.

Kamis, 01 Desember 2016

CATATAN PERJALANAN MENUJU PUNCAK BUKIT BELUNGAI

Bukit Belungai dari  kejauhan dengan Jembatan Tayan  dihadapannya
Bukit Belungai, Sebuah kawasan Hutan perbukitan yang secara administratif masuk kedalam wilayah Kecamatan Toba, Kabupaten Sanggau di provinsi Kalimantan Barat. Bukit Belungai memiliki puncak dengan ketinggian kurang lebih 713 Meter diatas permukaan laut. walau tidak terlalu tinggi, bukit Belungai menyimpan potensi wisata alam yang dapat dikembangkan dan dapat dijadikan sebagai kawasan tujuan wisata kegiatan alam terbuka. Bagi anda yang gemar dengan aktivitas Camping atau pun Hiking, Bukit Belungai tergolong cocok sebagai tempat penyaluran hobby tersebut. Medan pendakian menuju puncaknyapun tidak terlalu sulit untuk ditempuh.
Pada Hari hari libur biasanya kita bisa menemui rombongan pelajar yang sengaja menghabiskan waktu liburan mereka dengan kegiatan Camping atau pun Hiking di Kawasan hutan Perbukitan Belungai ini.

Berawal dari pertemanan disebuah jejaring media sosial, saya mendapat kesempatan untuk dapat bergabung dengan para sahabat dari bagian barat pulau kalimantan. dari obrolan iseng, kami kemudian merencanakan sebuah trip pendakian santai yang diisi dengan kegiatan penanaman pohon di kawasan hutan desa Balai Belungai.

Persiapan sembari beristirahat disalah satu
ruang istirahat karyawan Alfamart simpang Sosok
Sesuai dengan rencana, seluruh peserta trip yang berasal dari berbagai daerah akan berkumpul di Tayan. mereka ada yang berdomisili di kota Pontianak, ada yang datang dari wilayah kabupaten Sanggau, Ketapang dan saya sendiri dari Provinsi Kaliamantan Tengah.
Kami bertemu dan berkumpul untuk persiapan disalah satu Mart (Alfa Mart) dan suatu keberuntungan bagi kami dapat diijinkan untuk bermalam diruang Karyawan Toko Alfa Mart. 
Kami yang pada awalnya belum pernah bertemu muka satu sama lainya membaur dalam keakraban penuh canda tawa dan cerita . tak ada perasaan canggung diantara kami. begitulah tipikal pergaulan para penggiat alam terbuka ketika baru bertemu. 

Sarapan Pagi di Pasar Tradisonal Tayan
Keesokan paginya setelah sarapan pagi kami mulai berkemas untuk menuju Desa Balai Belungai. Perjalanan dari Kawasan Simpang Ampar menuju Desa Balai Belungai kami tempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua. Desa Balai Belungai adalah desa yang menjadi pintu gerbang untuk memasuki jalur pendakian di kawasan hutan bukit Belungai.


Tepat Pukul sembilan Pagi, Kami yang berjumlah sembilan orang memulai perjalanan memasui kawasan hutan di kaki bukit. Kami juga miminta jasa kepada dua orang pemuda desa untuk dapat menjadi pemandu perjalanan pendakian kami.

Kegiatan penanaman pohon pelindung.
Salah satu kegiatan yang kami lakukan adalah melakukan penananam bibit pohon pohon pelindung dibeberapa titik disepanjang jalur pendakian. Kebetulan teman teman dari Kota Pontianak mendapatkan bantuan bibit pohon pelindung dari Dinas Kehutan Kota Pontianak.Walau pun bibit pohon yang kami bawa tak banyak, kami berharap apa yang kami lakukan ini dapat berguna bagi lingkungan dikawasan Hutan Bukit Belungai.

Beristirahat sambari bersenda gurau diselasela perjalanan
menjadi cara yang ampuh untuk mengembalikan semangat
Setelah semua bibit pohon tertanam, kami pelan pelan melanjutkan perjalan kami menuju Puncak Bukit, Sesekali Kami berhenti untuk beristirahat. Kami pun berkesempatan untuk mandi dan membersihkan diri sekaligus mendinginkan suhu tubuk kami disalah satu aliran sungai kecil yang berair jernih di salah satu lembah perbukitan Belungai ini.
Walau pun dengan langkah yang agak lambat, karena semakin keatas jalur yang ada dihadapan kami semakin terjal. Terkadang kami harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menyibak semak semak dan ranting serta dahan pohon kayu yang menutupi jalan kami.

Tepat Pukul empat sore, saya menjadi orang pertama yang mencapai puncak bukit Belungai, disusul dengan beberapa teman dibelakang saya. sebagian lagi masih tertinggal jauh. Saya segera mempersiapkan kayu untuk api unggun kami pada saat malam. dibantu oleh dua orang pemuda desa yang menjadi pemandu kami, mereka mempersiapkan lokasi untuk mendirikan tenda di sekitar Patok Trianggulasi yang terdapat tepat di tengah tengah camping ground di puncak Bukit Belungai.

Menu Makan Malam minus Garam.
ketika hari semakin gelap, sembari beristirahat, kami bersama sama mempersiapkan makan malam dengan menu seadanya. Ada Cerita lucu dari Perjalanan Kami kali ini yaitu kami tidak membawa bekal garam, gula dan Kopi atau teh karena salah komunikasi ketika persiapan belanja pada pagi hari nya. walaupun begitu kejadian ini tidak merusak suasana keakraban kami, malah menjadi suatu pengalaman manis kami bersama.
setah makan malam pun acara kami lanjutkan dengan ngobrol dan bercerita sembari sesekali terdengar satu dua orang teman curhat tentang kehidupannya masing masing.

Walaupun ditengah cuaca malam yang pada waktu itu tak bersahabat, Hujan Mulai Turun dengan angin yang cukup kencang namun kami masih dapat menikmati istirahat malam kami dengan hangat.

Pagi Di Puncak Belungai
Keesokan harinya setelah bangun pagi, kami mulai berbagi tugas kembali, ada yang mengemas kembali tenda tenda dan sebagian mempersiapkan sarapan pagi dengan sisa sisa logistik seadanya. Pagi Hari tanpa Kopi memang agak terasa sedikit berbeda. Semua sisa sisa logistik kami kumpulkan untuk diolah menjadi sarapan pagi yang seadanya. Air Minum pun hampir tak bersisa. Namun tak mengurangi keceriaan kami, terkadang terdengar celotehan celotehan dari beberapa teman yang bikin kami tertawa sambil senyum senyum..
sungguh menjadi suatu cerita yang 


penuh kenangan dari para sahabat yang berjiwa petualang. apapun situasinya kami selalu tenang dan santai untuk menyikapi segala sesuatu yang terjadi di luar perhitungan kami.
Semoga Kami masih diberi kesempatan untuk kembali bersama berkumpul dalam petualangan petualang selanjutnya.



PERSAHABATAN TERJALIN, PERSAUDARAAN TERENGKUH, BERSAMA MENGUKIR CINTA KEPADA ALAM
#PI BORNEO RAYA

TARIAN BUKUNG : SEBUAH KEARIFAN LOKAL DISUASANA DUKA




Gendang tipa bertalu talu suaranya riuh rendah, berpadu dengan suara gong dan gamelan. Sementara itu sosok tak berbaju dengan muka dan dada penuh coreng seperti hantu berputar putar, menari kadang juga menjadi pelayan bagi sebuah acara kematian, itulah dia Bukung. Pada acara ritual menyandung maupun upacara ritual kematian bagi suku dayak , adat Bebukung selalu hadir dalam segenap acara . Mereka hadir sebagai bagian tak terpisahkan dari upacara kematian tersebut. Bukung adalah sosok manusia yang menghias dirinya menjadi seperti hantu dengan muka bercoreng, dada berukir dan pakai asisori dari daun kelapa dan daun ribuan atau ada juga dengan topeng yang disebut bukung raja. Seorang bukung akan merobah dirinya sehingga tidak dikenal, demikian juga suaranya berobah agar tak dikenal. Peran bukung sangat besar pada upacara kematian, terutama untuk menjadi pesuruh atau abdi atau hamba. Ia berfungsi sebagai tenaga sukarela untuk mengerjakan semua pekerjaan, baik itu mengambil air, mencari kayu, mencari perlengkapan untuk upacara kematian, mengangkut barang barang untuk kegiatan kematian dll.



dalam penjelesan beberapa tokoh tetua adat Dayak Tomun di Pedalaman Kabupaten Lamandau mengatakan bahwa bukung memiliki berbagai macam rupa antara lain : bukung rusa, bukung kulang kulit, bukung tembalaui, bukung Hantu dan masih banyak jenis rupa rupa Bukung lainya. Para Bukung ini berperan sebagai hamba atau tenaga sukarela. Mereka siap membantu, tidak boleh membantah dan tidak boleh takut.

Untuk memilih bukung ini memang tidak sembarangan. Tidak semua dapat menjadi bukung, selain dipilih dari utusan dusun atau kampung juga harus memenuhi syarat seperti agak jauh hubungan keluarganya dengan sang almarhum. Tingkat kerabatannya harus lebih tinggi atau sejajar dengan orang yag meninggal dunia. Tidak boleh memakai baju, tidak boleh berbicara dengan orang lain selain bukung, tidak boleh sedih, tetapi harus menembarau dan berpura pura sedih menirukan orang beduka cita serta harus pandai bergurau. Sebelum menjadi bukung harus dipatar dengan ritual tertentu.

 Click to wacth Video
Selain mempunyai otoritas dan kebanggaan sebagai bukung, tokoh hantu ini juga mempunyai hak istimewa yaitu mendapat makanan yang lebih banyak dan lebih istimewa dari yang lain. Menurut Rajiin, bukung tidak boleh masuk halaman orang lain kecuali rumah duka dan jika ingin berhenti menjadi bukung harus minta izin dulu kepada dukun untuk dicari gantinya.

Tugas bukung selesai setelah mayat dimakamkan atau disandung setelah pembakaran mayat. Memang tak semua kematian bagi masyarakat dayak menggunakan bukung, selain soal kepercayaan dan adat juga kemampuan seseoarang juga menjadi alasan. Adat bukung memang terkadang memakan biaya yang cukup besar, karena itu hanya kematian orang orang tertentu,seperti tokoh tokoh dan mantir adat suku dayak saja yang menggunakan bukung.






MENUGGAL : Sebuah Kearifan Lokal yang Hampir Punah



Menugal adalah kegiatan penanaman padi di lahan kering (ladang) yang biasa dilakukan masyarakat dayak.
Kegiatan menugal ini telah dilakukan secara turun-temurun sejak jaman nenek moyang suku dayak Tomun. Dimana orang tua pada masa lalu terbiasa dengan usaha ladang berpindah-pindah.

Setiap orang yang turut serta dalam kegiatan menugal ini dulunya tidak diberi upah/gaji dalam bentuk uang. Tetapi biasanya si pemilik ladang memotong hewan ternaknya seperti babi, anjing, ayam atau yang lainnya untuk nantinya dijadikan hidangan makanan saat kegiatan menugal tersebut atau. Dan hal ini dilakukan saling berbalasan bagi masyarakat di kampung tersebut, dalam kegiatan menugal. Selain menyediakan makanan si pemilik ladang juga menyediakan minuman tuak, arak dan lain sebagainya.

Seiring dengan semakin sempitnya lahan untuk menanam padi (ladang) akibat perkembangan perluasan perkebunan kelapa sawit, dan larangan pembakaran lahan mungkin beberapa tahun ke depan budaya seperti ini akan menghilang. Suasana kekeluargaan dan gotong-royong dalam kegiatan ini pun akan hilang seiring perubahan zaman.

(Lok : wilayah hutan desa Riam Tinggi, kecamatan Delang, kabupaten Lamandau Kalimantan Tengah)

Keselamatan dalam Kegiatan Pendakian : Sinergitas antar Pendaki dan Pengelola Jalur Pendakian

Keselamatan dalam Kegiatan Pendakian : Sinergitas antar Pendaki dan Pengelola Jalur Pendakian Sejak Boming nya Film 5 Cm, geliat akt...